Tuesday, August 31, 2010

Tidak Semua yang Kamu Lihat Itu Benar Adanya

Ada beberapa hal yang nggak bisa gue omongin langsung ke kalian semua, dan gue rasa lebih baik gue tulis di sini. Beberapa hal yang mengganjal dan gue nggak tau dan nggak ngerti gimana cara menyampaikannya dengan baik secara verbal.

Beberapa hari yang lalu seseorang mengatakan begini kepada gue: "Thia, saya kira kamu nggak pernah merasakan rasanya jadi 'rakyat jelata'."

Jujur rasanya kayak kesetrum waktu ada yang bilang kayak gitu. Maksudnya 'rakyat jelata' di sini itu apa ya? Kalau definisi 'rakyat jelata' di sini adalah orang yang pulang-pergi naik bus atau angkot, suka makan di warung pinggir jalan atau ke mana-mana naik kendaraan umum, maka maaf, pernyataan di atas itu SALAH BESAR.

Gue memang sering diantar-jemput supir ke mana-mana, bahkan ke sekolah sekalipun. Kalaupun gue nggak dijemput, gue bakalan naik taksi atau ojek. Gue melakukan itu semua karena gue disuruh orangtua gue. Yes, gue nggak boleh naik angkot atau bus selama masih bisa naik taksi atau ojek. Kenapa? Lagi-lagi, alasannya rasanya nggak etis gue tulis di sini, atau pun gue beritahukan secara langsung. Tapi untuk diingat aja, sebelum gue diantar-jemput tiap hari begini, gue udah khatam naik-turun angkot selama 15 tahun gue tinggal di Bogor. Gue tau rasanya naik kereta mulai dari ekonomi yang bau kambing sampe yang AC Pakuan karena gue dulu sering naik itu sama bokap waktu kecil. Dan gue masih suka naik bajaj kalo cuma buat ke daerah belakang rumah.

Sebenernya gue ini dipandang kayak gimana sih sama kalian? Apa kalian pikir hidup gue semulus jalan tol dan nggak pernah punya kesulitan? Semuanya tinggal menjentikkan jari dan segala keinginan gue tercapai? Hey, enggak. BlackBerry gue yang hilang aja bahkan nggak diganti sama ortu gue, sebagai bentuk 'hukuman' gue agar lebih bertanggungjawab dengan barang berharga milik sendiri. Uang saku gue ngepas buat seminggu -- itu sebabnya gue selalu menyisihkan beberapa ribu buat di celengan biar ada cadangan. Gue jarang belanja di butik atau retail store yang bermerk -- kalaupun iya, pasti lagi banting sale gila-gilaan. Dan kalau elo mau tahu the real truth, seringkali kalau gue jalan-jalan sama teman-teman, gue harus pakai uang gue sendiri, dari tabungan gue. Kenapa? Bukan karena ortu nggak mau bayar, cuma karena gue anggap itu pengeluaran gue sendiri, jadi harus gue lah yang bayar. Gue belajar untuk tahu diri. Masa gue yang jalan-jalan, ortu masih menanggung semua biayanya?

Semua fasilitas itu memang memudahkan hidup gue -- tapi NGGAK memanjakan gue. Orangtua gue nggak pernah memanjakan anak-anaknya. Baik gue dan kedua adik gue, semuanya diperlakukan sama, dengan kadar uang jajan yang ngepas masing-masing dan kita selalu disuruh untuk bekerja keras dan usaha dalam mencapai sesuatu. Nasihat bokap gue yang paling gue ingat: "Kamu bersyukur sekarang hidup lebih dari cukup, banyak fasilitas, tapi kamu harus tetap dan harus bisa belajar hidup yang sesungguhnya."

Harus gue akui, dari berbagai sisi gue memang terlihat lebih nyaman. Gue menyadari dan mensyukuri hal itu. Tapi untuk men-judge gue seolah-olah gue ini hidup sebagai 'putri' yang selalu dituruti dan dilayani kemauannya, rasanya nggak adil juga. Percaya deh, untuk ini semua, ada harga yang harus dibayar. Dan itu mahal. Dan lagi-lagi, gue nggak bisa ngasih tahu kalian semua.

Kadang-kadang pengen teriak tiap kali ada orang yang menyinggung gue tentang hal-hal begini. Ingin rasanya gue jelaskan semuanya, hidup gue yang real life di balik semua yang di-judge beberapa orang kepada gue. Tapi sekali lagi, kalau dipikir pake logika, rasanya nggak etis. Satu-satunya yang bisa gue lakukan adalah ngejelasin ini semua, lewat post ini. Maaf kalau jadi curhat panjang-lebar begini, tapi really... nothing is as it seems. Trust me.

Regards.

1 comments:

tentang dunia said...

salam kenal,,,, hemmm gak tau deh mau bilang apa,,, v semangat ya ngejalanin hidup... biarin orang yg bialang aneh2 mah... yg penting kita gak ngerugiin mereka...