
Tadi gue baru aja ngeliat-liat archives blog gue selama sebulan terakhir ini. Ya ampun... ternyata banyak banget ya yang isinya cuma curcolan doang, atau malah parahnya tulisan-tulisan sampah berkadar emosi tinggi. Maka dari itu, mari kita tinggalkan sejenak pribadi saya yang labil sebagai remaja ini (halah), dengan nge-post sesuatu yang berguna dan membuat kita menggunakan otak untuk berpikir (sedikit) lebih banyak. Bahasa kerennya: senam otak, gitu lhoo, hahaha.
Hmm, apa yang mau gue omongin? Ho. Iya.
Pernah nggak kepikiran soal alternate universe? Yang kalau di-Bahasa Indonesia-kan menjadi "alam semesta alternatif"? (Hiya, itu jelas banget ya. -,-)
Kalau dari definisi yang gue dapet di Wikipedia (oh my, GOD BLESS this website), alternate universe didefinisikan sebagai:
Ribet ya? Iya, emang ribet. Awal-awal baca gue juga nggak ngerti maksudnya apa. Tapi, hmm, untuk singkatnya biar ngerti, mari kita ambil contoh kasus deh.
Hari ini gue bangun jam setengah 7 pagi dan berangkat ke sekolah buat latihan paskibra. Sebenernya, gue udah dibangunin sama si mbak jam 6, cuma entah mengapa rasanya mata ini sulit sekali terbuka. Malah sempat kepikiran buat nggak dateng latihan aja. Cuma pada akhirnya, gue memilih datang latihan. Setelah latihan paskibra (yang sangat spartan dan diselingi oleh acara push-up 50 kali di tengah-tengah lapangan aspal jam setengah 11 siang!), gue memutuskan untuk pergi ke Roxy Square untuk beli DVD tuh. Eh, tak terduga dan dinyana, ternyata setelah dari Roxy, jalanan hujan deras! Jadilah gue pulang ke rumah bukannya naik bus tapi malah naik bajaj biar nggak kehujanan--dan berakhir dengan diketawain sama satpam depan rumah gue, hem.
Oke. Mungkin contoh kisah di atas rasanya nyampah banget dan nggak penting, tapi pernah kepikiran nggak... apa ya yang terjadi seandainya gue mengambil keputusan yang berbeda saat itu?
Gimana kalau saat itu gue memutuskan untuk absen latihan aja?
Gimana kalau gue setelah latihan langsung balik ke rumah, nggak ke Roxy dulu?
Gimana kalau setelah dari Roxy itu gue tetep keukeuh pulang naik bus walau dengan resiko kehujanan?
Pasti ceritanya akan berbeda. Kalau gue nggak latihan paskibra, gue mungkin akan tetep ngendon aja di rumah dan nggak dapet "olahraga kecil" hari ini. Kalau gue langsung pulang, nggak mungkin sekarang gue punya DVD Glee episode 14-17. Kalau gue tetep pulang naik bus, mungkin sekarang gue udah bersin-bersin pilek gara-gara kehujanan.
Nyadar nggak sih, betapa banyaknya kombinasi-kombinasi yang bisa kita lakukan pada hidup kita? Apa pun yang kita pilih, sadar nggak sadar, akan menciptakan suatu alternate universe; dunia di mana semua opsi dari tindakan kita yang kita skip itu terjadi. Berarti, sesuai dengan contoh kasus tadi, gue secara nggak sadar sudah menciptakan beberapa universe lain; universe di mana gue nggak latihan paskib, di mana gue nggak ke Roxy, dan di mana gue pulang nggak naik bajaj.
Gue jadi inget, sebagai fans setia serial Supernatural, di episode... 9 (kalo nggak salah, agak lupa nih) pada season 5, ada salah satu adegan di mana seorang malaikat bernama Michael, berkata kepada si tokoh utama, Dean Winchester: "Free will is an illusion."
Buat gue, kalimat itu 'nendang' banget rasanya. Hal itu membuat gue sadar bahwa setiap pilihan yang kita buat di dalam hidup kita, sekecil apa pun, pasti punya efek yang besar ke depannya. Semuanya akan terakumulasi menjadi apa yang kita sebut sebagai satu: takdir. Yes, destiny. Semua yang kita pilih akan menjadi jalan hidup kita. Jalan hidup yang, kalau dipikir-pikir, nggak ubahnya kayak sebuah buku cerita. Sekarang pertanyaannya: siapa yang menjadi pengarang buku cerita tersebut?
Ya Allah SWT tentunya. Sebegitu besar ya kekuasaan dan kecintaanNya pada makhlukNya sehingga setiap orang aja punya kisah dengan awalan dan ending yang unik masing-masing. Betapa kreatifnya Sang Pencipta membuat milyaran bahkan triliunan kombinasi pilihan hidup bagi kita semua. Dan yang lebih dahsyat lagi, setiap pilihan yang kita ambil, pasti akan sesuai dengan jalan cerita hidup kita yang sudah ditulis olehNya. Memang sih rasanya seolah-olah yang mempertimbangkan dan memutuskan itu hanya kita seorang, tapi coba pikir lagi deh: ketika ortu kita memutuskan untuk menikah, misalnya. Apa itu bukan kehendak Tuhan? Kalau Tuhan nggak ada andil dalam memberi mereka opsi seperti itu, kita nggak akan lahir, dong? Iya, kan?
Kesimpulannya?
Yak, setelah nulis panjang-lebar ngalor-ngidul bikin yang baca juga capek begini, gue menyimpulkan bahwa semua yang ada di depan kita ini sesungguhnya sudah diarahkan oleh Yang Maha Kuasa. Makanya gue juga yakin, bahwa sesungguhnya Allah itu dekat sekali dengan kita, bahkan melebihi dekatnya nadi dan kulit kita. Karena bahkan setiap umatNya sudah dibimbing olehNya untuk menjalani hidup sesuai dengan takdir masing-masing. Bahwa setiap keputusan yang kita ambil, pasti sudah ada 'invisible hands' yang mengatur. Sekarang, tinggal kitanya aja: mau terus-terusan mengeluh tidak puas akan hidup yang ternyata sudah diatur, atau menjalaninya dengan ikhlas dan sepenuh hati? The choice is yours (REALLY yours, for this time). :D
Regards.



2 comments:
alternate universe eh? pagi-pagi udah berat pikiran lo, hemm.. oiya, free will is not an illusion, it's just God have known what would we all do
itu kan quotes dr serial TV, nief. i just quoted it, whether it's true or not depends on the person yaddaaa yaddaaa~
Post a Comment